Saturday, 13 October 2012

Tempias

Mendung
Pengenal langit menangis

Rintik rintik
Cuba ia sarati salur takung 
Biar jatuhnya nanti bergendong
Dengarnya terkandung
Tik. . .
Tik. . .
Tik. . .
Cantik.

Tekan
Butang satu pada tubuh berbilah lima
Berkuasa turbo tertera
Taat menyebar 

Empuk
Cuba cari posisi
yang paling rasi
Jumpa.

Dingin
Menancap kulit 
Lebar kain putih membalut separuh
Bukan kapan

Aku tekan lagi
Kali ini pada butang kosong
dimatikan.
Dinginnya tak tertanggungg
Biar hangat aku tersarung
dan menyelak nikmat terhidang

Pejamlah mata
Jangan.
Kuyulah mata
Tidak.
Aku gigih mencapai
Sesampai di awal hari
Ya, tadi.

Tolol.
Akulah antara belakang kulit itu.

Dalam momen nyaman ini
Pasang pancaku masih tertempel
Ardynya sebuah naskah.
Wangi.


Sincerely,
.Me.

No comments:

Post a Comment

Do leave your comment.
I thank you.

.Tiap cantuman aksaraku dan seisinya adalah yang terpinjamkan dariNYA.